Tergerusnya Legitimasi Pemilu

Portaldailynet, Jakarta – Menjelang pelaksanaa Pemilu yang tinggal kurang dari satu bulan lagi, indikasi akan kecurangan semakin nyata. Pesta Demokrasi yang konon menandakan dan menjadi barometer sebagai asas tatanan bernegara dan bermasyarakat paling sempurna. Dijaminnya kebebasan untuk bependapat, bersuara, saling beradu gagasan dan ide untuk perubahan kearah kemajuan.

Tapi pada prakteknya, pesta Demokrasi sekarang berubah menjadi ajang pergulatan barbar. Menjadi pesta keculasan dan penjegalan. Kebebasan untuk memilih, mengutarakan suara dan pendapat dikebiri dan dikekang. Hukum dan undang – undang dipakai untuk menggebuk dan membungkam suara lawan.

Persekusi terhadap ulama dan pembicara – pembicara nasional. Menggunakan pasal dan ayat karet UU IT untuk membungkam dan menghancurkan lawan. Memutarbalikan hukum, mengubah pelapor dari kubu oposisi menjadi seorang tertuduh. Melindungi dan membiarkan pelaku persekusi, penyebar berita hoaks dari kubu sendiri.

Yang lebih lucu lagi dari Demokrasi ini adalah, dihadang dan ditolaknya seorang juru kampanye yang notabene sebagai salah seorang dari paslon. Dan ini dilakukan oleh pendukung yang menyatakan diri paling demokratis, paling Pancasilais. Dimana Demokrasinya? Dimana kebebasan mengutarakan pendapat, ide dan gagasan. Dimana hebatnya Demokrasi yang didigebar – gemborkan sebagai satu – satunya asas yang paling sempurna. Ternyata mereka cuma geombolan barbar yang haus dan rakus akan kekuasaan.

Disisi yang lain penghadangan ini justru mendapat pembiaran dan perlindungan dari aparat penegak hukum. Mengatasnamakan demi keamana dan ketertiban, aparat hukum ini justru tidak membubarkan para perusuh penghadangan dan penolakan.

Aparat hukum telah berubah. Dari yang seharusnya wasit yang netral, menjadi penengah dan pengayom serta pelindung masyarakat. Berubah menjadi pemain dan ikut bertanding di pikah penguasa.

Kepercayaan akan pemilu yang jujur dan adil makin menurun seiring dengan para wasit yang ikut menjadi pemain. Seruan untuk menjaga dan mengawasi TPS – TPS makin gencar di dengungkan. Tak cukup sampai disitu, kini dipandang perlu adanya lembaga pemantau independen internasional untuk ikut mengawasi.

Demokrasi makin tidak transparasi dan tidak terpercaya lagi. Lahirnyan Pemimpin yang haus dan rakus akan kekuasaan berasal dari hasil Demokrasi. Pemimpin yang minim prestasi, banyak mengobral janji – janji tanpa aplikasi yang nyata.

Pengawas, penyelengara, dan wasit telah ikut bertanding.
Berkumpul dalam satu kubu yang sama. Kubu penguasa.

 

(Jo)

Related posts

Leave a Comment